Ulasan Buku The Last Girl: My Story of Captivity, and My Fight Against the Islamic State karya Nadia Murad
The Last Girl: My Story of Captivity, and My Fight Against the Islamic State • "The Islamic State gave us two choices: convert or die." Terjemahan: "Negara Islam memberi kita dua pilihan: mualaf atau mati." • Buku ini adalah memoar yang ditulis oleh Nadia Murad, seorang penyintas genosida Yazidi dan penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2018. Buku ini merupakan kesaksian langsung yang menggugah tentang penderitaan, keberanian, dan perjuangan untuk keadilan. Buku ini berlatar tragedi kemanusiaan pada tahun 2014, ketika kelompok teroris ISIS menyerbu desa-desa Yazidi di Sinjar, Irak. Nadia, yang saat itu berusia 21 tahun, menjadi saksi dan korban langsung kekejaman ISIS yang menargetkan komunitasnya karena keyakinan agama mereka. Nadia menggambarkan masa kecilnya di desa Kocho, sebuah komunitas Yazidi yang erat dan damai. Kehidupannya sederhana tapi bahagia, penuh dengan harapan dan impian untuk menjadi guru atau menata rambut. Ini menciptakan kontras tajam dengan penderit...