Ulasan Buku The Last Girl: My Story of Captivity, and My Fight Against the Islamic State karya Nadia Murad



The Last Girl: My Story of Captivity, and My Fight Against the Islamic State

"The Islamic State gave us two choices: convert or die."

Terjemahan:

"Negara Islam memberi kita dua pilihan: mualaf atau mati."

Buku ini adalah memoar yang ditulis oleh Nadia Murad, seorang penyintas genosida Yazidi dan penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2018. Buku ini merupakan kesaksian langsung yang menggugah tentang penderitaan, keberanian, dan perjuangan untuk keadilan.

Buku ini berlatar tragedi kemanusiaan pada tahun 2014, ketika kelompok teroris ISIS menyerbu desa-desa Yazidi di Sinjar, Irak. Nadia, yang saat itu berusia 21 tahun, menjadi saksi dan korban langsung kekejaman ISIS yang menargetkan komunitasnya karena keyakinan agama mereka.

Nadia menggambarkan masa kecilnya di desa Kocho, sebuah komunitas Yazidi yang erat dan damai. Kehidupannya sederhana tapi bahagia, penuh dengan harapan dan impian untuk menjadi guru atau menata rambut. Ini menciptakan kontras tajam dengan penderitaan yang ia alami setelahnya.

Pada Agustus 2014, ISIS menyerang Kocho. Laki-laki, termasuk saudara-saudara dan ibunya, dibunuh secara massal. Perempuan dan anak-anak diculik dan diperbudak. Bagian ini sangat mengerikan dan emosional, menggambarkan kehancuran budaya dan kehidupan manusia secara brutal. Nadia diculik dan dijual sebagai budak seks oleh ISIS. Ia mengalami penyiksaan fisik dan psikologis yang mengerikan. Meski begitu, semangatnya untuk hidup dan keinginannya untuk bebas tidak padam. Setelah melalui penderitaan yang tak terbayangkan, ia akhirnya berhasil melarikan diri.

Setelah pelariannya, Nadia menjadi suara bagi para korban. Ia berbicara di forum internasional, termasuk di PBB, tentang kekejaman ISIS dan pentingnya mengenali genosida terhadap Yazidi. Perjalanan ini menggambarkan transisinya dari korban menjadi aktivis hak asasi manusia yang tangguh.

Gaya penulisan narasi Nadia sederhana, jujur, dan langsung. Ia tidak memperhalus penderitaan yang dialaminya, membuat pembaca merasakan rasa takut, duka, dan frustrasi yang nyata. Namun, di balik itu, ada kekuatan dan harapan yang menyentuh. Nadia menggunakan suaranya untuk melawan keheningan dan ketidakadilan. Ia mendesak dunia untuk tidak diam terhadap kejahatan terhadap kemanusiaan. Buku ini adalah seruan tentang kekuatan perempuan dalam menghadapi trauma ekstrem.

Buku ini autentik dan emosional, ditulis langsung oleh penyintas. Menyuarakan krisis yang sering diabaikan media. Buku ini mendorong pembaca untuk berpikir tentang keadilan, kemanusiaan, dan tanggung jawab global. Sementara beberapa bagian bisa sangat berat secara emosional bagi pembaca sensitif.

"The Last Girl" bukan hanya kisah tentang kekejaman, tetapi juga tentang kekuatan untuk bangkit dan berjuang demi kebenaran. Nadia Murad menjadi simbol keberanian, dan bukunya adalah pengingat bahwa dunia tidak boleh tinggal diam terhadap penderitaan orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Buku The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan) karya Salman Rushdie

Ulasan Buku Eksistensialisme dan Humanisme karya Jean Paul Sartre

Ulasan Buku The Selfish Gene karya Richard Dawkins